SURABAYA, Desapenari.id – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (Unair) baru saja meluncurkan petisi daring di change.org. Isinya mengejutkan: mereka meminta program Makan Bergizi Gratis (MBG) segera dihentikan!
Melalui unggahan di akun Instagram resmi, BEM Unair menyebarluaskan petisi ini dan langsung mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut angkat bicara. “Mari, masyarakat Indonesia, kita tandatangani petisi daring ini sebagai bentuk tuntutan penghentian program problematik tersebut,” tulis BEM Unair dengan tegas dalam unggahannya.
Kenapa BEM Unair Protes Keras? MBG Dianggap Menguras Anggaran Negara!
Ketua BEM Unair, Rizqi Senja, mengungkapkan bahwa petisi ini lahir dari keresahan mahasiswa yang mendalam. Mereka menilai program MBG justru berpotensi membebani anggaran negara secara besar-besaran, namun hasilnya jauh dari optimal. “Bayangkan, program ini cuma kasih makan tanpa memutar uangnya. Akibatnya, potensi pembengkakan anggaran itu nyata adanya,” jelas Senja saat dihubungi awak media pada Sabtu (6/6/2026).
Meskipun Senja mengakui bahwa tujuan awal MBG untuk mencegah stunting itu mulia, namun fakta di lapangan berbicara lain. Pelaksanaannya, menurutnya, masih jauh dari harapan. Contohnya? Banyak laporan masuk mengenai menu MBG yang dianggap gagal memenuhi kebutuhan gizi siswa. “Kemarin sempat viral, MBG hanya memberikan susu, kacang, dan roti. Padahal ekspektasi publik dari awal kan daging sapi, lele, dan sebagainya. Kenyataannya tidak sesuai, dan laporan semacam ini sangat banyak,” tegasnya.
Tak Cuma Kualitas Menu, BEM Unair Soroti Mark Up hingga Kasus Keracunan Massal!
Bukan hanya persoalan kualitas makanan yang mengecewakan, BEM Unair juga menyoroti isu yang lebih serius: dugaan mark up dalam pengadaan program MBG. “Nah, inilah yang mendasari tuntutan kami untuk menghapus program MBG. Sejak awal, ketika melihat konsep dan implementasinya, kami memang tidak sepakat,” ujar Senja dengan lantang.
Ia pun mengaitkan protes ini dengan pemberitaan hangat tentang penggeledahan kantor Badan Gizi Nasional (BGN) oleh Kejaksaan Agung yang baru-baru ini menggemparkan publik. Menurut Senja, masalah lain yang tak kalah memprihatinkan adalah maraknya kasus keracunan yang dikaitkan dengan pelaksanaan MBG di berbagai daerah. “Coba bayangkan, ada data puluhan ribu siswa yang keracunan MBG. Namun, Presiden Prabowo menganggap itu hanya sebatas data statistik belaka. Sungguh mengenaskan, kan?” terangnya sembari geleng-geleng kepala.
Solusi dari BEM Unair: Fokuskan Anggaran ke Daerah 3T dan Libatkan UMKM!
Daripada memaksakan program yang dinilai bermasalah, Senja mengusulkan langkah yang lebih tepat sasaran. Program pemberian makanan bergizi, katanya, akan jauh lebih efektif jika difokuskan hanya untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang memang memiliki tingkat kerawanan pangan tinggi. Pendekatan ini, menurutnya, bisa membuat anggaran negara lebih efisien sekaligus memastikan bantuan diterima oleh kelompok yang paling membutuhkan.
“Jadi, dari proyek MBG ini timbul banyak sekali polemik. Mulai dari soal bagi-bagi tender, standar gizi yang tidak jelas, sampai implementasi dari pusat ke daerah yang kacau balau. Semua itu menjadi keresahan utama kami,” ucapnya dengan nada prihatin. Ia berharap petisi yang digagas BEM Unair ini bisa menjadi bahan kajian serius sekaligus rekomendasi kuat bagi pemerintah untuk segera mengevaluasi program tersebut.
Gerakan Meluas! BEM Unair Gandeng Mahasiswa Kampus Lain, Ajak Semua Tandatangan Sekarang!
Tak ingin berjuang sendiri, BEM Unair sudah merencanakan langkah selanjutnya: menggandeng organisasi mahasiswa dari berbagai kampus di seluruh Indonesia untuk bersama-sama menyuarakan aspirasi yang sama. Selain itu, Senja juga mengusulkan alternatif program yang lebih cerdas. Pemerintah, katanya, sebaiknya lebih banyak melibatkan pelaku UMKM lokal dalam penyediaan makanan dibandingkan membangun dapur-dapur MBG baru yang boros. “Pada akhirnya, kita ingin menyediakan makanan bergizi gratis yang benar-benar tepat sasaran, terutama di daerah-daerah 3T yang siswanya sangat membutuhkan. Selain itu, program seperti itu juga sekaligus bisa memutar roda ekonomi masyarakat melalui UMKM,” pungkas Senja mengakhiri pernyataannya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

