Desapenari.id — Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite yang belakangan ini melanda kawasan Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) secara meluas benar-benar telah memicu lonjakan harga yang sangat fantastis, liar, dan tak terkendali di tingkat pedagang eceran pinggir jalan.
Lantas, fenomena pemandangan dramatis berupa antrean panjang kendaraan roda dua maupun roda empat yang mengular hingga berjam-jam di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) langsung menjadi alasan utama mengapa harga bahan bakar bersubsidi tersebut mendadak melambung tinggi tanpa kontrol di lapak-lapak pedagang kaki lima.
Kemudian, berdasarkan hasil pemantauan intensif wartawan di lapangan pada Minggu (13/6/2026), keterbatasan pasokan BBM yang melanda SPBU ini langsung dimanfaatkan secara cerdik oleh sebagian oknum spekulan tidak bertanggung jawab demi mengerek harga jual secara sepihak di tingkat eceran demi meraup keuntungan pribadi yang berlipat ganda.
Bahkan, dampak krisis bahan bakar yang paling menonjol dan memprihatinkan ini terlihat sangat jelas di kawasan Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju, di mana masyarakat setempat harus mengelus dada akibat ulah para penjual bensin botolan yang menaikkan tarif seenaknya.
Di wilayah tersebut, Pertalite eceran yang para pedagang kemas secara rapi menggunakan botol plastik bekas air mineral ukuran 1,5 liter kini mereka banderol dengan harga yang sangat mencekik leher, yakni menembus nominal angka fantastis sebesar Rp 25.000 per botol.
Alhasil, nominal yang melonjak tinggi tersebut langsung mencatatkan peningkatan tarif yang amat signifikan jika kita membandingkannya dengan harga normal sebelumnya yang sempat bertahan relatif stabil pada angka Rp 20.000 per botol.
Selain itu, lonjakan tarif gila-gilaan ini rupanya tidak cuma menimpa kemasan wadah besar saja, sebab Pertalite dalam botol ukuran 1 liter pun turut mengalami penyesuaian harga drastis dari yang semula cuma Rp 13.000 kini langsung melejit menjadi Rp 15.000 per botol.
Sementara itu, salah seorang pedagang eceran di Kecamatan Tapalang yang sengaja menyembunyikan identitasnya membeberkan kenyataan pahit bahwa tingginya harga jual bensin botolan tersebut sebenarnya dipicu oleh mata rantai pasokan bahan bakar yang sudah sangat bertingkat dan berbelit-belit di lapangan.
Oleh sebab itu, pria tersebut menuturkan secara jujur bahwa dirinya sama sekali tidak lagi memperoleh pasokan Pertalite secara langsung dari corong resmi SPBU, melainkan terpaksa membelinya dari pihak kedua alias para pengepul yang mematok harga jauh lebih tinggi.
“Saya jujur tidak membeli stok bensin ini langsung dari SPBU, melainkan saya mendapatkannya dari pedagang pengepul juga,” ungkap pria tersebut dengan raut muka pasrah ketika wartawan menemuinya di lapak dagangannya pada Minggu.
Tak hanya melanda kawasan Mamuju, kondisi kelangkaan BBM yang sangat meresahkan warga ini kemudian menjalar cepat ke berbagai wilayah lain di Provinsi Sulawesi Barat, seperti Kabupaten Majene dan Kabupaten Polewali Mandar (Polman).
Sebagai contoh nyata, di kawasan Kabupaten Majene sendiri, para pedagang nekat mematok harga eceran Pertalite botol ukuran 1,5 liter pada rentang harga yang lumayan meresahkan kantong warga, yakni mulai dari Rp 23.000 hingga merambat naik ke angka Rp 25.000 per botol.
Selanjutnya, pergerakan harga eceran tersebut terus berubah secara sangat dinamis di lapangan, karena nilainya amat bergantung pada seberapa keras tingkat kesulitan yang para pedagang hadapi demi mengamankan pasokan stok BBM dari para pengepul.
Di sisi lain, malapetaka kelangkaan pasokan BBM paling parah justru terkonfirmasi melanda wilayah Kabupaten Polewali Mandar, di mana harga eceran di daerah ini sempat meroket secara gila-gilaan hingga menyentuh angka fantastis Rp 30.000 sampai Rp 35.000 untuk satu botol ukuran 1,5 liter!
Menanggapi hal tersebut, Pain, seorang warga lokal asal Polewali Mandar, ikut membeberkan kenyataan bahwa gejolak lonjakan harga BBM yang melambung tinggi ini memang sudah dirasakan secara berat oleh masyarakat luas sejak awal pekan lalu.
“Pada Senin (7/9/2026) lalu, saya bahkan sempat terpaksa membeli bensin eceran seharga Rp 35.000 hanya untuk kemasan botol 1,5 liter, kendati sekarang harganya sudah sedikit mengalami penurunan di kisaran Rp 30.000,” kata Pain saat membagikan keluh kesahnya.
Pada akhirnya, kepastian fenomena harga BBM eceran yang meledak hingga menembus Rp 35.000 ini salah satunya memang melanda Kecamatan Luyo, Kabupaten Polman, yang menempatkan daerah tersebut sebagai salah satu kawasan terdampak paling parah di seluruh wilayah provinsi.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

