BANDUNG, Desapenari.id – Warga dan para pelaku usaha kuliner di Jawa Barat mendadak geger setelah harga tepung tapioka atau tepung aci melonjak drastis hingga menyentuh angka fantastis Rp18.000 per kilogram. Oleh karena itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat segera memberikan penjelasan resmi untuk menguraikan kelangkaan pasokan umbi singkong segar yang menjadi pemicu utama di balik meroketnya harga bahan makanan populer tersebut di pasaran.
Menanggapi gejolak harga yang kian meresahkan ini, Kepala DKPP Jawa Barat, Linda Al Amin, membeberkan fakta lapangan bahwasanya berkurangnya ketersediaan umbi singkong terjadi akibat jadwal panen raya di berbagai daerah sentra pertanian ternyata belum berlangsung secara serentak.
Akibatnya, kondisi kelangkaan bahan baku mentah tersebut langsung mencekik pabrik-pabrik pengolahan tapioka karena mereka mengalami kesulitan besar dalam mendapatkan pasokan umbi singkong segar yang memadai demi memenuhi target produksi harian secara normal.
Lebih lanjut lagi, Linda memaparkan rincian teknis tersebut melalui keterangan tertulis resminya pada Rabu (4/11/2026) dengan menegaskan, “Faktor pendorong utamanya memang kemerosotan produksi singkong sebagai bahan baku utama dikarenakan belum semua daerah memasuki masa panen raya, ditambah lagi potensi musim kemarau panjang yang mengurangi ketersediaan bahan baku singkong sehingga pabrik tapioka kesulitan mendapatkan pasokan dalam jumlah cukup.”
Tak berhenti di situ, beliau juga merinci bahwa harga tepung aci di tingkat pedagang pasar saat ini memang sudah melonjak amat tinggi ke kisaran Rp16.000 hingga Rp18.000 per kilogram. Angka kenaikan ini menandakan pembengkakan drastis sekitar 30 persen jika kita bandingkan dengan patokan harga normal terdahulu yang hanya berada di kisaran Rp10.000 sampai Rp14.000 per kilogram saja.
Selain lonjakan harga di tataran pedagang eceran, badai kenaikan harga rupanya sudah lebih dulu menghantam rantai paling bawah yakni di tingkat petani tempatan. Hal ini semakin diperkuat oleh data resmi Kementerian Pertanian per 28 Oktober 2026 yang mencatat bahwasanya harga jual umbi singkong di tingkat akar rumput melompat sangat tinggi dari yang semula cuma Rp700 per kilogram, kini mendadak meroket tajam hingga menyentuh Rp3.000 per kilogram.
Berdasarkan analisis mendalam tersebut, Linda menilai bahwa lonjakan harga umbi singkong di tingkat petani ini secara otomatis langsung merembet dan mendongkrak total pembengkakan biaya operasional serta modal produksi pada seluruh pabrik pengolahan tepung aci di wilayah Jawa Barat.
Oleh sebab itu, dampak buruk dari krisis tepung aci ini tidak hanya memukul lini industri besar, tetapi juga menghantam keras para pelaku usaha kuliner skala mikro, khususnya para pedagang cilok, cireng, cimol, hingga aneka olahan jajanan rakyat yang amat menggantungkan nasib usahanya pada pasokan tepung aci saban hari.
Mengenai efek domino yang kian meluas ini, Linda pun menegaskan kembali dengan nada memperingatkan, “Kenaikan harga singkong yang sangat tinggi tersebut jelas-jelas secara langsung menaikkan beban biaya produksi pabrik maupun para pengusaha kecil.”
Di sisi lain, pemerintah pusat justru sedang mengambil kebijakan tegas dengan memperketat kran impor komoditas singkong serta tepung tapioka dari luar negeri demi memproteksi nasib para petani lokal sekaligus mendorong penggunaan hasil produksi dalam negeri secara maksimal.
Kendati demikian, Linda sejujurnya mengungkapkan bahwasanya pergerakan kenaikan harga tapioka di lapangan memang tidak masuk secara penuh ke dalam pemantauan rutin harian DKPP Jawa Barat, mengingat tepung aci sejauh ini belum terkategori sebagai komoditas bahan pangan pokok strategis nasional layaknya beras atau minyak goreng.
Walau begitu, pihak DKPP Jawa Barat berjanji tidak akan berdiam diri dan siap bergerak cepat untuk menelusuri serta menuntaskan persoalan krisis harga ini dengan merangkul sejumlah perangkat daerah teknis yang terkait.
Menjabarkan langkah konkret penanganan tersebut, Linda menguraikan, “DKPP langsung menggalang koordinasi erat bersama dinas tanaman pangan dan hortikultura berkaitan dengan produksi bahan baku tanaman singkong untuk mengevaluasi apakah penurunan ini mirip seperti fenomena beras akibat kekeringan yang mengurangi produksi atau menurunkan produktivitas lahan.”
Tak cuma berhenti di sektor pertanian hulu, Linda menambahkan langkah penelusuran mereka, “Selanjutnya, koordinasi juga kami lakukan bersama dinas perindustrian dan perdagangan serta dinas KUKM untuk memantau alur pengolahan saat umbi singkong diproses menjadi tepung aci oleh perusahaan-perusahaan skala pabrik.”
Di samping itu, beliau menegaskan bahwasanya instansinya siap melancarkan upaya ekstra dengan memantau pergerakan harga singkong dan tepung tapioka secara rinci mulai dari tingkat produsen hulu hingga ke pasar tradisional.
Sebab, menurut pemaparannya, langkah pengawasan tersebut memegang peranan yang amat penting guna memastikan ketersediaan stok di gudang pabrik serta distributor tetap aman terjaga sekaligus mengantisipasi potensi penimbunan barang dan aksi permainan harga dari para spekulan.
Mengakhiri penjelasannya dengan penuh ketegasan, Linda menyimpulkan, “Pengawasan ketat pada alur distribusi ini sangat krusial untuk mencegah penimbunan barang secara ilegal dan menghalau permainan harga yang bisa merugikan masyarakat luas.”
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.


Hi there to all, for the reason that I am genuinely keen of reading this website’s post to be updated on a regular basis. It carries pleasant stuff.
1win ошибка пополнения 1win ошибка пополнения
1win ставки на UFC http://www.1win70215.shop