DENPASAR, Desapenari.id – Bayangkan, dalam hitungan hari saja, puluhan hingga ratusan ekor babi mendadak roboh dan mati di kandangnya. Inilah pemandangan mengerikan yang kini menghantui para peternak di Provinsi Bali. Setelah ditelusuri, kematian massal ini diduga kuat disebabkan oleh wabah mematikan bernama African Swine Fever (ASF). Namun, jangan cemas dulu! Pemerintah tidak tinggal diam. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan Pangan) Provinsi Bali dengan sigap menyiapkan program vaksinasi besar-besaran setelah pemerintah pusat resmi mengalokasikan 50.000 dosis vaksin ASF untuk Pulau Dewata pada tahun 2026 mendatang.
Kepala Distan Pangan Bali, Wayan Sunada, dengan tegas mengungkapkan bahwa pihaknya sekarang sedang memberikan perhatian serius terhadap wabah ASF. Mengapa demikian? Karena tingkat penularan virus ini luar biasa cepat, seperti api menjalar di musim kemarau. Sudah tentu, wabah menakutkan ini juga menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi para peternak yang menggantungkan hidup dari ternak babi. Untuk itu, pemerintah pusat telah memutuskan untuk mengirimkan bantuan vital. Sunada mengonfirmasi bahwa Bali kebagian jatah 50.000 dosis vaksin ASF. Selain vaksin ASF, pemerintah pusat juga tidak lupa mengalokasikan 20.360 dosis vaksin Classical Swine Fever (CSF) guna memperkuat pengendalian penyakit pada ternak babi secara menyeluruh.
Lalu, kapan vaksin ini benar-benar bisa digunakan? Sunada menjelaskan prosesnya secara rinci. Saat ini, pemerintah pusat sedang gencar melakukan proses pengadaan vaksin ASF. Seluruh proses ini dijadwalkan baru akan selesai pada Juni 2026. Setelah itu, barulah vaksin akan mulai didistribusikan ke daerah-daerah, termasuk Bali, pada Juli 2026. “Pemerintah pusat saat ini sedang melakukan proses pengadaan vaksin ASF. Setelah distribusi dilakukan ke daerah, kami akan menyiapkan langkah teknis pelaksanaan vaksinasi sesuai sasaran yang telah ditetapkan,” ujarnya dengan penuh harap pada Senin (1/6/2026) dalam keterangan resminya.
Wayan Sunada kemudian menjelaskan strategi jitu mereka. Nantinya, vaksin ASF tidak akan diberikan sembarangan. Pemerintah akan memprioritaskan vaksin ini untuk babi pejantan dan indukan. Mengapa dua kelompok ini yang diutamakan? “Babi pejantan dan indukan menjadi prioritas karena memiliki nilai penting dalam keberlanjutan produksi dan pembibitan ternak babi,” jelas Sunada. Sementara itu, untuk ternak penggemukan biasanya tidak menjadi target utama karena mereka dipelihara dalam waktu yang lebih pendek, hanya untuk kebutuhan konsumsi semata.
Tiga Kabupaten Dilanda Kematian Massal
Meski vaksin baru datang tahun depan, kenyataan pahit kini sudah terjadi. Kematian ternak babi dilaporkan mewabah setidaknya di tiga kabupaten besar: Buleleng, Badung, dan Gianyar belakangan ini. Peternak di sana kini sedang kalang kabut.
Mari kita telusuri satu per satu. Di Kabupaten Buleleng, tepatnya di Kecamatan Tejakula, sebanyak 25 ekor babi milik warga mati secara mendadak hanya dalam kurun waktu satu pekan terakhir. Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (DKPP) Buleleng, I Gede Melandrat, mengaku tidak ragu lagi. Dinasnya menduga kuat kematian ternak tersebut akibat serangan ganas virus African Swine Fever (ASF). “Sekitar 25 di kecamatan. Mati langsung. Itu positif ASF,” ujar Melandrat dengan nada prihatin pada Kamis (28/5/2026) di Buleleng. Yang paling menyedihkan, babi yang mati rata-rata berusia sekitar enam bulan, atau sudah mendekati masa panen. Dengan demikian, kerugian yang dialami peternak cukup besar.
Selanjutnya, giliran Kabupaten Gianyar yang juga berduka. Wabah ASF ganas ini turut menghantam seorang peternak bernama I Wayan Sudiantara, warga Desa Buahan, Kecamatan Payangan. Saat ditemui, Sudiantara hanya bisa mengeluh pilu. Ia mengaku puluhan babi miliknya mati berguguran dalam beberapa waktu terakhir. “Habis, Pak, babi saya. Babi umur 50 hari sekitar 17 ekor, babi indukan 9 ekor, semua mati,” ujar Sudiantara dengan mata berkaca-kaca, Jumat (22/5/2026).
Lebih tragis lagi, kondisi memilukan ini tidak hanya menimpa Sudiantara seorang diri. Di banjar tempatnya tinggal saja, tercatat sedikitnya ada lima peternak babi yang kini bernasib sama. Semua kandang mereka nyaris kosong. Bahkan, kabar burung mengatakan bahwa kasus babi mati massal ini juga dilaporkan terjadi di sejumlah banjar lain di sepanjang Kecamatan Payangan. Sungguh wabah yang tidak kenal ampun!
Akhirnya, giliran Kabupaten Badung yang ikut merasakan pahitnya wabah ini. Kasus serupa dialami oleh peternak babi di kawasan wisata Canggu, Kecamatan Kuta Utara. Coba bayangkan, sebanyak 60 ekor babi milik Ketut Widanta mati mendadak saat mereka sudah gemuk-gemuknya dan mendekati masa panen. Widanta mengisahkan bahwa ia mulai kehilangan ternaknya satu per satu sejak awal April 2026. Perlahan tapi pasti, wabah itu merenggut semua babi kesayangannya hingga akhirnya tidak ada yang tersisa. “Semua mati babinya, tidak ada yang tersisa. Totalnya 60 ekor,” ujar Ketut Widanta dengan nada frustrasi, Kamis (21/5/2026). Akibat kejadian mengerikan ini, ia pun mengalami kerugian yang cukup besar dan kini harus memulai dari nol lagi. Vaksinasi segera dinanti-nantikan oleh para peternak yang putus asa ini.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

