BOYOLALI, Desapenari.id – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, baru saja dibanjiri curhat panas dari sejumlah bupati di wilayah Solo Raya. Pasalnya, gerombolan kera ekor panjang secara membabibuta terus menyerbu dan merangsek masuk ke pemukiman warga.
Para bupati secara langsung melontarkan keluhan tersebut dalam acara Rembug Pembangunan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 yang digelar di Boyolali, Jawa Tengah, pada Selasa (2/6/2026). Situasinya sudah sangat mendesak dan meresahkan warga.
RESPON CEPAT! Luthfi Langsung Ambil Tindakan
Dengan sigap menanggapi aduan panas tersebut, Luthfi menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak akan tinggal diam. Pihaknya segera mengirimkan surat resmi ke Kementerian Kehutanan. Isinya tegas: meminta kuota tangkap sekaligus prosedur pengamanan satwa liar tersebut.
“Kita segera bersurat kepada Menteri Kehutanan. Targetnya jelas, kami ingin mendapat kuota tangkap dan skema pengamanan. Perlu diingat, mengamankan kera tidak boleh dengan membunuh mereka,” tegas Luthfi di hadapan peserta Rembug Pembangunan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026.
Acara yang mengangkat tema “Mengembangkan Pariwisata Berkelanjutan dan Ekonomi Syariah sebagai Tulang Punggung Pertumbuhan Ekonomi” itu berlangsung di Pendopo Gede Boyolali, Jawa Tengah, Selasa kemarin. Semua mata tertuju pada masalah serius yang satu ini.
BUKAN MAIN-MAIN! Kawanan Kera Turun Gunung Massal
Luthfi pun membeberkan fakta mencengangkan. Proses penangkapan kawanan kera tidak bisa dilakukan secara asal-asalan. Pihaknya wajib melibatkan pawang satwa yang benar-benar kompeten dan bersertifikat. Fenomena turun gunung ini tidak hanya menyerang Kabupaten Boyolali saja, lho!
Satwa liar yang panik ini juga melanda berbagai daerah penyangga di sekitar lereng Gunung Merbabu. Dua wilayah yang paling parah dilaporkan adalah Kota Salatiga dan Kabupaten Karanganyar. Di kedua daerah ini, kawanan kera ekor panjang dengan berani merangsek masuk hingga ke perkampungan penduduk paling padat.
“Pemerintah akan mengatur soal kuota tangkap sekaligus menyediakan pawangnya. Kami nanti akan minta proses penangkapan ini menjangkau hampir seluruh kabupaten dan kota. Mulai dari Ungaran, lalu daerah sekitaran Merbabu. Kenapa? Karena kera-kera ini turun terus dan tidak mau naik lagi ke gunung. Boyolali juga ikut kena, dan seterusnya,” tambah Luthfi dengan nada serius.
BUPATI BOYOLALI BUKA SUARA: KUOTA TANGCAP KAMI TERLALU MINIM!
Sementara itu, Bupati Boyolali, Agus Irawan, dengan terus terang mengungkapkan kondisi memprihatinkan di wilayahnya. Menurutnya, sektor pertanian hortikultura, khususnya sayuran, merupakan potensi ekonomi terbesar daerahnya. Kawasan lereng Gunung Merapi dan Merbabu di Boyolali bahkan diklaim sebagai produsen sayuran nomor wahid se-Solo Raya.
Namun, potensi ekonomi sebesar itu kini terancam serius! Bukan hanya masalah klasik soal kelangkaan pupuk, tetapi hama baru yang lebih mengerikan muncul: kera ekor panjang. Gerombolan kera ini dengan seenaknya merusak lahan pertanian milik warga, membuat para petani semakin tertekan.
“Potensi terbesar kami sebagai penghasil sayuran terbesar se-Solo Raya berada di lereng Merapi-Merbabu,” ujar Agus dengan nada gelisah.
“Inilah kendala terberat kami saat ini, selain persoalan pupuk. Warga terpaksa menggunakan pupuk ZA yang belum ada subsidinya. Namun yang tidak kalah parah dan menjadi momok utama adalah serbuan kera ekor panjang,” tambahnya dengan penuh penekanan.
UPAYA SEBELUMNYA GAGAL TOTAL!
Agus pun mengaku jujur bahwa Pemerintah Kabupaten Boyolali sebelumnya sudah berusaha mengajukan permintaan penambahan kuota tangkap. Semua itu dilakukan semata-mata untuk mengatasi gangguan luar biasa dari satwa primata tersebut.
Namun, kebijakan yang telah dijalankan itu dinilai masih jauh dari kata berhasil. Akar permasalahan di lapangan sampai saat ini tidak kunjung terselesaikan secara tuntas. Para petani terus menjerit melihat ladang sayur mereka babak belur dihajar kawanan kera yang semakin nekat.
“Kemarin kami sudah mengajukan penambahan kuota tangkap, tetapi hingga detik ini, permasalahan itu belum juga bisa kami selesaikan,” kata Agus dengan nada frustrasi.
APA LANGKAH SELANJUTNYA? Semua Mata Tertuju ke Kemenhut!
Dengan surat yang akan segera dikirimkan Gubernur Luthfi, publik kini berharap Kementerian Kehutanan bergerak cepat. Kuota tangkap yang memadai dan prosedur pengamanan yang efektif menjadi kebutuhan mendesak. Apakah Kemenhut akan merespon cepat? Atau warga Solo Raya harus terus hidup dalam ketakutan akan serbuan kera ekor panjang? Kita tunggu langkah nyata selanjutnya!
Satu hal yang pasti, kegagalan penanganan sebelumnya tidak boleh terulang. Gubernur Luthfi telah menunjukkan komitmennya. Kini saatnya pemerintah pusat turun tangan menyelamatkan lahan pertanian dan permukiman warga dari ancaman nyata kawanan kera ekor panjang yang semakin buas dan tidak kenal ampun.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

